Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

Penyaluran Bibit Dinilai Salah Sasaran


SAROLANGUN- Banyaknya bibit karet yang diberikan Pemkab Sarolangun kepada kelompok tani, ternyata belum semua ditanam. Bahkan, ada yang ditelantarkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan seolah penyaluran bibit karet tersebut salah sasaran, dan kelompok tani yang benar-benar membutuhkan bibit justru tidak kebagian.

Kabid P3H Dinas Perkebunan dan Kehutanan Sarolangun Quswaini mengatakan, semua bantuan bibit karet yang berjumlah 1 juta bibit untuk 2.000 hekter lahan sudah 100 persen disalurkan. “Semua bantuan bibit karet dari APBD Sarolangun sudah kita bagikan,” katanya.

Menyinggung banyaknya bibit klaret yang masih telantar, Quswaini mengatakan penyaluran bibit karet sudah dilihat berdasarkan CPCL (calon petani dan calon hahan). Menurut dia, pihaknya melakukan cross cek ke lapangan agar bibit benar-benar tepat sasaran.

Sebelum menyalurkan bibit kita terlebih dahulu mengecak CPCL. Jika memang ada lahan, maka baru kita berikan bibit tersebut sesuai proposal yang diajukan kelompok tani bersangkutan,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan bagi pembagian bibit karet dari Provinsi Jambi. Bantuan bibit karet dari Provinsi Jambi ditanam untuk 3.000 Ha lahan. “Kita hanya menyalurkan bibit kepada kelompok tani, dan bibit tersebut jadi tangung jawab kelompok tani untuk menyalurkan ke masyarakat,” kata Quswaini.

Pernyataan senada diutarakan Yusnardi, PPTK Pengadaan Bibit Karaet Diinas Perekebunan dan Kehutanan. Menurutnya, hingga saat ini semua bibit karet baik bantuan dari Pemkab mapun Provinsi Jambi semuanya sudah disalurkan. “Jika sudah di lapangan bibit tersebut menjadi tangung jawab kelompok tani, namun masih di bawah pengawasan PPL,” kata dia.

Menurut Yusnardi, PPL di lapangan terus melaukan monitoring terhadap penyaluran bibit dari kelompk tani kepada anggotanya, bahkan PPL juga terus memantau penanaman serta pememliharaan bibit karet tersebut, sehingga bantaun yang diberikan oleh pememrintah, benar-benar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sesuai harapan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jambi.

“Jika benar-benar dirawat, dalam jangka 5 tahun karet tersebut sudah menghasilkan artinya sudah dapat disadap,” terang Yusnardi. (si)

Senin, 16 November 2009

Petani Resah, Pupuk Langka


SAROLANGUN- Keresahan petani di Kecamatan Pelawan kian tak terbendung. Keberadaan pupuk subsidi yang biasa dijual kini menjadi barang langka. Petani kesulitan mendapat pupuk dengan biaya lebih ringan itu. Di Singkut VIII, misalnya, petani yang menginginkan pupuk bersubsidi harus merogoh uang hingga Rp 100 ribu demi mendapat pupuk urea setiap karung.

”Kami benar-benar kesulitan mendapatkan pupuk urea yang bersubsidi,” ujar Udin, petani Desa Mekar Sari, Kecamatan Pelawan. Menurut dia, dengan biaya Rp 100 ribu ditambah ongkos mengangkut, maka petani sangat dibebankan. Beberapa bulan lalu, kata dia, pupuk bersubsidi untuk jenis urea masih bisa diperoleh dengan harga Rp 80 ribu. Namun, kini itu tak ada lagi.

“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Sarolangun dapat memantau para distributor pupuk bersubsidi. Apakah pupuk tersebut benar-benar disalurkan kepada petani, atau ke tempat lain,” katanya. Menurut Udin, selama ini masyarakat hanya mendengar kabar jika pupuk tersebut tidak tepat sasaran.

“Kami juga sebagai anggota kelompok tani juga sangat membutuhkan pupuk, karena sudah beberapa bulan kebun karet yang kami miliki tidak dipupuk,” katanya.

Udin menceritakan, sejak kelangkaan pupuk dan melambungnya harga, produksi komoditi pertanian mereka juga menurun. Kebun karet yang biasa berproduksi 400 kg per bulan untuk setiap hektar, kini hanya 200 kg. “Caba bayangkan sendiri, kebun yang biasa kita beri makan dengan yang tidak kita beri makan jelas sekali penghasilan kami menurun,” tuturnya.

Dia berharap Pemkab Sarolangun dapat serius untuk membantu petani dalam menyalurkan pupuk bersubsidi, sehingga mereka bisa dengan mudah mengelola potensi perkebunan yang dimiliki. (si)