Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2009

Jembatan Pangkal Bulian Dibangun


SAROLANGUN- Keterisolasian Desa Pangkal Bulian, Kecamatan Pauh tidak lama lagi bakal berakhir. Pasalnya, saat ini sedang dibangun jembatan yang bisa menghubungkan Desa Pangkal Bulian dengan Desa Tanjung, Kecamatan Bathin VIII. Jembatan tersebut dibangun menggunakan dana APBD Provinsi Jambi senilai Rp 4 miliar.

Kades Pangkal Bulian, Abdul Gani, kepada koran ini mengungkapkan, jika pembangunan jembatan tersebut sudah selesai, maka akan memperpendek waktu jarak tempuh ke Sarolangun yang hanya satu jam. Selama ini, terang Kades, yang baru dilantik itu, untuk sampai ke Kota Sarolangun warga harus melewati Desa Pauh, ibukota Kecamatan Pauh dengan waktu tempuh lebih dari dua jam.

Namun, dengan dibangunnya jembatan, warga yang ingin ke Sarolangun bisa melalui Desa Tanjung kemudian melewati jalan Lintas Sumatera. Saat ini pekerjaan jembatan memasuki tahap awal, yakni pembuatan landasan jembatan. Kemudian proyek ini akan dilanjutkan pada anggaran 2010.

"Kelanjutan pembuatan jembatan pada anggaran 2010 nanti," terang Abdul. Disamping itu, dikatakan, jika jembatan tersebut selesai bisa dimanfaatkan bagi beberapa desa, seperti Desa Kasang Melintang, Pangkal Bulian, maupun beberapa desa lainnya yang ada di Kecamatan Air Hitam. (si)

Sabtu, 14 November 2009

Puluhan Rumah Warga Terancam Longsor


SAROLANGUN- Puluhan rumah warga yang berada di aliran Sungai Batang Asai, tepatnya di Kelurahan Gunung Kembang, Kecamatan Sarolangun kini kian mencemaskan. Erosi yang terjadi di sepanjang bibir sungai tersebut ikut mengikis lokasi pemukiman. Bahkan, jarak antara rumah warga dengan tebing sungai sudah sangat dekat. Puluhan rumah warga kini terancam longsor.

Ketua DPRD Sarolangun Susi Apriyanti beserta sejumlah anggota Dewan saat mengunjungi daerah tersebut mengaku sangat prihatin. Dia bahkan menyarankan harus ada segera tindakan untuk menyelematkan rumah warga dari terjangan erosi.

Menurut Susi, langkah awal yang akan dilakukan Dewan adalah sesegera mungkin memanggil dinas terkait, untuk membicarakan solusi mengantisipasi longsor di bibir Sungai Batang Asai.

Dari pantauan Sarolanguninfo.com, terlihat beberapa meter tanah tebing penyangga sudah ambrol dan membentuk cekungan. Sebagian lainnya terlihat sudah retak dan dikhawatirkan ikut ambrol bila hujan turun.

“Perlu ibu ketahui, sekarang tebing ini hanya bertahan karena ada bangunan PDAM berukuran sekitar 3,5 meter di sisi tebing. Kalau tidak ada itu, mungkin sudah ikut longsor juga,” kata Nurdin (30), warga setempat kepada Susi Apriyanti dan dua anggota DPRD Sarolangun lainnya.

Menurut Nurdin, di lokasi tebing penyangga tersebut beberapa tahun sebelumnya pernah dibuat bronjong namun karena tingginya debit air dan derasnya terjangan air sungai, bronjong ikut amblas. “Itu cuma sisa kawat-kawatnya yang masih ada sedikit,” kata Nurdin menunjuk ke lokasi puing-puing bekas bronjong.

Kepada warga dan sejumlah wartawan, Ketua DPRD Sarolangun, Susi Apriyanti menyatakan pihaknya akan berupaya menganggarkan dana untuk pembangunan turap di lokasi tersebut pada anggaran 2010. Namun sebelumnya dia meminta kepada camat, lurah, dan Dinas PU Sarolangun untuk mengecek dan mempelajari segala hal yang berkenaan dengan rencana pembangunan turap tersebut. (si)

Jumat, 13 November 2009

Jalan Batang Asai Dikerjakan Asal Jadi


SAROLANGUN- Pengerjaan jalan Batang Asai, Sarolangun tampaknya terus bermasalah. Meski, setiap tahun dibangun namun keluhan masih saja muncul dari masyarakat. Rendahnya kualitas jalan membuat warga kecewa. Mereka menyesalkan pengerjaan jalan Batang Asai yang dinilai asal jadi.

Edi (27), warga Sungai Pinang, Kecamatan Batang Asai mengatakan, setelah dibangun jalan Batang Asai kembali rusak. “Baru dibangun, sekarang aspalnya sudah setengah hancur. Jalan dipenuhi dengan kerikil yang berserakan,” ujarnya.

Kondisi itu, kata dia, dapat ditemui di kawasan Bukit Rayo Batang Asai. Badan jalan tampak sudah mengelupas, sementara pengguna jalan harus lebih hati-hati saat melintas.

Edi menyesalkan kurangnya pengawasan terhadap pengerjaan jalan Batang Asai. Di lihat dari pengerjaan proyek saja, pembangunan jalan tidak disertakan papan merek proyek. Sehingga menambah kecurigaan adanya penyimpangan pembangunan jalan Batang Asai. "Sampai sekarang kita juga tidak tahu siapa sebenarnya kontraktor pengerjaan jalan Batang Asai dan berapa nilai proyek itu,” kata Ketua Ikatan Pemuda Eks Marga Sungai Pinang ini.

Syamsudin, warga Batang Asai lainnya mengatakan, nilai proyek jalan Batang Asai dikabarkan mencapai miliaran rupiah. Tapi, dia heran kualitas jalan yang dibangun begitu rendah. "Kami berharap pemerintah bisa betul-betul serius menyediakan fasilitas umum bagi masyarakat. Jangan hanya sekedar dikerjakan, kemudian setiap tahun harus direhab,” sesalnya.

Terkait pengerjaan jalan Batang Asai yang dianggap asal jadi, hingga kemarin (9/10) belum ada keterangan resmi dari Dinas Kimpraswil Provinsi Jambi, termasuk apakah jalan yang dikerjakan sesuai spesifikasi atau tidak. (si)